“Global Warming!” Gue ga peduli kalo ada yg bilang, gue budak euphoria hanya karena gue ngerasa perlu turut mengkampanyekannya. Tapi setidaknya gue punya cukup alasan untuk mengakui ini suatu agenda penting bagi semua penduduk bumi termasuk gue tentunya. Satu alasannya adalah air. Ada sejarah hidup gue yang membuat gue begitu perhatian tentang air ini. Dan bukankah kampanye pencegahan pemanasan global juga menyangkut tentang keberadaan air ini? Lalu berikut, penjelasan gue mengenai hubungan air dengan sejarah hidup yg gue lewati. Kampung gue Jatisrono, memang beruntung karena deket hutan dan gunung, lumayan subur tanahnya dan tidak kesulitan untuk mendapatkan air yang layak guna di musim hujan maupun kemarau. Tetapi gue juga tidak bisa menutup mata dan mengunci pengetahuan dari sekeliling. Jatisrono itu masuk dalam kabupaten Wonogiri, yang sebagian wilayah kecamatan2nya mengalami musim kemarau yang sangat ekstrim, kalau didaerah lain hanya enem bulanan maka sebagian daerah2 ini bisa mencapai delapan sampai dengan sepuluh bulan mengalami kemarau. Dan apa yang dialami penduduknya selama kemarau itu? Jelas kesulitan air layak guna! Penduduk disana, sangat bergantung dengan telaga2 yg sebagian isinya tergantung dari hujan yang turun karena mata airnya sangat kecil, dalam artian di kemarau telaga itu hanya bisa menyediakan air sangat minim, padahal telaga itu difungsikan untuk minum, mandi, cuci, pengairan ladang dan juga sumber penghidupan ternak mereka. Kadang mereka harus berjalan kaki berkilo2 untuk ngangsu (terpaksa gue pake ‘jawa’ untuk nyebutkan, krn gue ga nemu padanan kata yg tepat di ‘bahasa’). Kadang juga harus mengantri dari tengah malam, menunggui mata air di telaga tersebut. Kalau pun ada yg mapan, mereka memiliki bak air sendiri yg digunakan untuk menampung curahan hujan dengan harapan bisa digunakan airnya pas kemarau. Gue bilangnya sih lumbung air. Tapi akan beberapa lama bertahan kalau kemarau terlampau panjang? Jadi intinya mau kaya atau miskin semua mengalami kesulitan air. Dikemarau selalu mereka membutuhkan bantuan air, tetangga gue yg bekerja di PDAM bahkan setiap hari mengirim bertangki air ke mereka. Air di musim dikemarau sudah melebihi gemerlap emas, saking sulit mendapatkannya. Itu belum lagi ladang para petaninya, ladang mereka tentunya juga sangat bergantung sama hujan sebagai sumber pengairan. Jenis padi yang bisa ditanam hanyalah padi gogo, krn tidak terlalu membutuhkan suplai air irigasi yg banyak untuk tumbuh. Di kemarau panjang jangan harap bisa menemukan tanaman tumbuh diatas tanahnya. Karena celah tanah ladang mereka, bahkan bisa dimasuki telapak kaki orang dewasa. Kalaupun ada kebun pasti hanyalah singkong yg sanggup bertahan hidup, yang pada akhirnya menjadikan singkong ini sebagai makanan pokok penganti beras. Lalu kebayangkan gimana kesulitan hidup mereka karena kemarau yang panjang setiap tahun. Belum lagi panas matahari yang menyengat. Kalau saja tidak percaya silahkan saja googling dengan memakai kunci wonogiri+kemarau, sebagian berita yg ditemukan pasti mengenai kesulitan air ato baca kompas 06 desember 2007 halaman 39. Kecamatan di Wonogiri yg terparah kondisinya di tiap kemarau panjang adalah Parang Gupito dan Pracimantoro, puluhan kilo dari Jatisrono, kampung gue. Bagaimana kalau kemudian perubahan iklim yg terjadi di daerah tersebut bisa membuat kemarau semakin panjang, engga lagi itungan bulan tapi tahun? Hah gue kok jadi parno, takut kalau kesulitan air mengakibatkan kesulitan pangan. Cerita di kabupaten gue ini pasti tidak bisa kita temukan di video kampanyenye Al Gore dkk, akan tetapi kebayang ngerinya kalau belum kejadian aja, beberapa kecamatan di kabupaten gue sudah sebegitu susahnya? Tapi gue juga ngga bisa nutup mata, pada tempat tinggal gue sekarang, betapa rumah kos’an sampe perlu memperdalam sumur untuk mendapatkan air tanah bila kemarau di beberapa tahun terakhir ini. Kebayang juga kan gimana nantinya? kalau tidak dari sekarang kita peduli air, kapan saja musim apa saja. Dan sedikit yg gue telah lakukan adalah tidak boros untuk mandi maupun cuci. Kecil ya? Tapi gue yakin itu ngaruh! Itulah sedikit yg jadi alasan buat gue sehingga ngerasa perlu jadi bagian kampanye pencegahan pemanasan global yang gue pastiin bukan karena euphoria semata. Dan gue juga ingin ikutan bilang; “Pelihara bumi karena satu bumi untuk semua!” *terimakasih bapak yg telah mengajariku menghargai air, menjitak kepalaku ketika aku lupa menutup kran saat bak udah penuh hingga air beleleran kemana-mana, memarahiku ketika menyuci pakaian dgn detergen dan air yg berlebihan; mengajakku ke daerah2 yg susah air dikala aku liburan sekolah*
 | ada perasaan sedih yang mengalir |
 | Makanya lo jadi jarang mandi ya pry hi.hi.hi.. Kalau ngak ada air mandi di cibubur aja katanya mas hari..Boleh kok kalau buat Pry :-) |
 | *tiba-tiba merasa menyesal setiap hari 2x mandi selama 1/2 jam* |
 | untung g hanya mandi pagi pagi saja................. haa...ha....
maaf g alergi berat... kalau g mandi sore g bisa bersin bersin ampe kagak bisa tidur.....
kecuali kasus tertentu kalau g lagi dapet... mau nggak mau g mandi.... walaupun habis itu g minum obat alergi biar bisa tidur....
|
 | aaahhh kangen ama dj tiesto nehhhhhh |
 | kau genggam lagi...
about global warming, climate change dan sebagainya....
what can i say.. orang sudah keenakan sama fasilitas yang ada, jadinya gak mau bersusah oayah memikirkan sesama ataupun masa depan bagi keturunannya...
selain air, yang guie takutkan adalah bahan bakar, gila-gilaan.. !! jaman gue kerja di BPPT, tuh minyak sebarel masih 30 dollar, sekarang menuju angka 100 dollar.. serem !! premium tahun depan bisa jadi ditiadakan, bisa kebayang kan?
|
 | saya terharu...
"gw suka banget ngabisin air kalu di rumah, mulai mandi dengan air berlimpah sampai minum air bergelas-gelas (bukannya bagus ya... ;p ) ya... secara gw suka maen air tapi suka lupa kalu gada air panik banget, jadi air itu memang perlu banget dilestari, tidak hanya pohon dan tanah tempat air itu tersimpan*
terbayang gak sich kalu dunia kita ini kering kerontang gak punya air, ato terlalu berlimpah air seperti di laut lepas sana... ;(
air... air... air... |
 | katumbiri wrote on Dec 5, '07, edited on Dec 5, '07 alhamdulillah...di garut gw ga pernah kesulitan air....kadang2 gw suka lupa ngehemat air saking berlimpahnya..:( |
 | sama-sama.. jujur, gue juga sering lupa kok.. |
 | :-)) kadang kita suka kebalik, kalo kemarau jadi rajin banget mandi, tapi kalo penghujan air lagi banyak2nya malas banget buat mandi.. |
 | gw rada boros air kalo lagi PMS ..*tebak ngapain* |
 | itu juga gue alami.. makanya sering kena omelan bonyok gue |
 | santi31 wrote on Dec 5, '07, edited on Dec 5, '07 gara-gara air tulisan loe jadi bagus gini pry..... gue sampe terharuuuu...... hu hu....... |
 | ngangsu itu padan katanya menimba. tapi mesti diartikan secara luas, bukan hanya seperti menimba air dari sumur.
global warming mengharuskan kita untuk cepat berubah. bukan cuma sekadar mengurangi percepatan pemanasan globalnya saja, tapi juga kemampuan beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang juga berubah cepat. ini tantangan buat kita, gimana caranya bisa tetep survive kala suhu bumi kian naik.. |
 | salah satu sisi 'sensitif' gue emang air sih San... lo miris ma gue juga ga san? |
 | ngangsu'nya mereka lebih berarti membawa tempayan, gerigen, ember untu mengambil air di telaga, sendang atau sumber mata air..
di sebuah tipi pernah gue lihat, debatnya al gore.. yg bilang emang pemanasan global tidak mungkin dicegah sepenuhnya, tapi upaya pengurangan efek pemanasan global dan efek2 dibelakangnya, yg salah satunya dg cara penghematan energi.. gue setuju sih, kalo diliat manusia emang punya insting untuk bertahan dan mengikuti perubahan alam/iklim, tapi apa kabar dengan makhluk hidup yg laen? berapa kemudian habitat yg punah karena tidak bisa adaptasi dng naeknya suhu bumi
sedikit miris ternyata ada negara maju yg masih belum meratifikasi protokol kyoto krn keberatan pengurangan emisi gas rumah kaca yg punya andil gede terhadap peningkatan suhu bumi.. semoga aja Bali Roadmap akan memberikan jalan keluar, demi bumi, demi penghuninya... |
 | 1. iya pry, gw paham soal ngangsu yang itu.
2. kepunahan satu atau beberapa species, mungkin memang tak bisa terus dihindari. kalo mau liat sejarah perkembangan kehidupan dan alam semesta ini, semua punya siklus itu. memang, kehilangan satu mata rantai, bakal mempengaruhi mata rantai lain. tapi gw percaya, kehidupan ini bakal bergerak menyeimbangkan dirinya sendiri. kita, manusia yang punya akal dan pikiran hendaknya memahami itu. buat menyiapkan diri dan beradaptasi pada perubahan-perubahan di sekeliling kita. pada akhirnya, yang lebih siap yang insya Allah bakal terus survive.
|
 | . _ .
yu, hemat air yu... stop global warming *speechless*
makasi pry diingetin. orang yang mengalami jatuh mnurut gw orang yang paling pantas untuk berbicara =) *fufufu, sok tawu yak* |
 | baru kali ini tulisan lo bikin gw speechless ;p |
 | emang sih Kang, pada akhirnya makhluk lah yg kemudian dituntut untuk mencari berbagai cara bertahan terhadap perubahan iklim yg bahkan sangat ekstrim (inget gelombang panas di eropa beberapa tahun 2003 yg menewaskan lebih 15 ribu orang di perancis saja -tag photo kompas 29 juni 2005 halaman 13).. semoga aja upaya manusia untuk penghematan energi merupakan cara untuk bertahan.. dan protokol kyoto dan bali road map bisa memberi tekanan kepada semua 'penguasa bumi' untuk menjaga bumi... agar semua bisa survive |
 | jadi inget, gw juga pernah nulis kisah sejenis yang gak jauh hubungannya sama lingkungan hidup. sila baca disini:) |
 | iyaaaa... dimulai dari diri sendiri hyuk,
karena gue ngerasa bumi makin panas akhir2 ini (apa gw doang ya?) |
Comment deleted at the request of the author.
 | hemat energi juga penting tuh Dee kekekke oia ngomongin tentang energi gue jadi inget. pasokan listrik di kampung gue bergantung sama PLTA bendungan gadjahmungkur... saat ini itu bendungan mulai menyusut volume airnya, sehingga efeknya sering mengalami pemadaman.. dan kalo masih tetap boros, denger2 Jakarta akan sering mengalami pemadaman.. selanjutnya kita tanya aja neng Gina untuk menjelaskan disini |
 | knp nih knpa? payah ya tulisan gue :-(( maklum banyak curhat colongan sih kekekekke |
 | iya gue suka Di cerita lo ttg sungai belakang rumah lo itu.. ya' apa harus ya kepedulian itu perlu dipaksakan, biar terus lestari alam ku (lagu gombloh deh) |
 | iya Yu.. dari aksi yg kecil kalo dilakukan banyak orang pasti akan ngaruhnya bakal besar banget.. denger2 mau ada gelombang pasang lagi ya? ga tau ini efek climate change ato bukan.. |
 | hua mau keliling mana lagi nih Ceu... masa sih ke Mall ato pusat belanja mulu.. ajak aja muterin bumi perkemahan cibubur pake highheel |
 | Thanks for sharing ya say.. sungguh blog yang berbeda, realistis dan mengena.. semoga makin menyadarkan kita semua ini bukan kampanye keren2an atau trend2an ajah.. big hug buat pry* 1973

VS
2006

*same view
|
 | kampung danang di sebelah kampungnya pry....yaitu slogohimo pemandangan di depan rumah neneknya danang adalah sawah2 yang kering, tanah yang retak2...dan otomatis mereka gak punya mata pencaharian selama musim kering..hiks kacian.. T_T meskipun ada air yang mengalir langsung dari gunung, tapi jumlahnya gak ckp buat mengairi sawah2 yang ada...huhuhuhuhu nanti kalo bumi makin panas..lama2 gak ada juga air buat minum..huwa bagaimana dongs |
 | pryabiasa wrote on Dec 6, '07, edited on Dec 6, '07 ngeri juga kalo diliat dari foto itu.. ga usah jauh2.. sekarang liat berapa derajat celcius suhu di musim kering.. mungkin bisa mencapai angka tertinggi dari taon2 sebelumnya.. terus tinggal nengadah kelangit, masih ya kita bisa ngeliat langit warna biru.. langit berubah jadi kelabu... dan mungkin nanti anak2 sd ato tk tidak lagi memberi warna biru untuk langit di lukisannya tapi kelabu...
*iya kampanye ini bukan sekadar keren2an tapi emang penteng banget apalagi kalo tau bumi sebegitu menderitanya krn ulah dan kebijakan manusia yg tidak bersahabat dng alam.. |
 | 1. untuk para petani di musim kemarau biasanya pergi ke kota, nyari kerja dikota setelah musim tanam kemudian balik lagi ke kampung.. kebayang emang kalo kmd kemaraunya menahun.. betapa sepi kampung mereka, betapa susahnya nyari penghasilan
2. sebenarnya di sekitar daerah itu dibikin bendungan gajahmungkur dng membendung sungai bengawan solo yg salah satunya emang untuk irigasi.. hanya sayangnya daerah yg lebih malah belum bisa memanfaatkan sampe sekarang, sementara irigasi dari bendungan itu sangat nguntungin bagi sawah2 di kabupaten2 tetangga... |
 | gw trut serta dengan mndi berdua bareng Rama setiap hr dibawah shower..ngirit kan? |
Comment deleted at the request of the author.
 | mandi dirumahku jg boleh Pry :) |
 | Pry sembarangan kowe! hr ini gw jalan kaki ke kebunraya woi... lumayan.. |
 | boleh ;-) tapi ntar diintipin mas lo gimana Da? :-P |
 | mandi dengan shower emang sebagai bentuk aksi penghematan air tanah... krn penggunaan airnya bisa setengahnya dibanding kalo pake gayung.. *trus mandi bareng sama gue kapan Da? -mulai nakal-* |
 | stop pemanasan global! kalo gag dimule dari diri kita sendiri, terus sapa lagi?
*gag ikut konferensi di Bali mas?* |
| slain kampanye di MP, kampanye dimana lagi Pry?? ikut komunitas lingkungan gitu? yuk mari kita selamatkan Jatisrono dan bumi ini!! ;D |
 | kalo distop kaya'nya rada susah ya Guh.. tapi kalo diminimalisasi itu yg realistis.. ya krn dunia sangat tergantung penggunaan energi dan eksplorasi segala macam, plus juga teknologi yg ternyata ngedorong terjadinya pemanasan global... kalo ngeringin rambut ga usah pake hairdryer ya... matikan AC dan lampu kalo pergi ninggalin rumah.. :-)
*emang ada? konperensi apaan sih? heheh* |
 | kalo mau peduli, ga mesti ikut komunitas macem2 kan? Jatisrono belum parah kok, yg parah tetangganya jatisrono letaknya puluhan kilo gitu, 2 jam perjalanan tapi masih satu kabupaten.. eeh kok ga pengen nyelamatin cowok jatisrono aja |
 | ngomongin hutan di kita, kadang bikin capek hati aja.. pemerintah terlalu ringan memberikan HPH kepada yg kadang lupa pemeliharaan... belum lagi masalah korupsi dana reboisasi, trus pembalakan... hah! mesti harus ada hukum yg tegas dan kuat... dan seharusnya pemerintah bisa menarik keuntungan dari banyaknya hutan yg jadi paru2 dunia ini, dng jalan menerima bayaran dari negara2 laen (semacem royalti) krn telah menjaga dan memelihara hutan alam, yg berarti juga melindungi bumi dari berbagai kerusakan.. |
 | sebenernya pemerintah kurang tegas dalam masalah hutan, tapi disegala aspek. semoga pemilu 2009 bisa membawa perubahan ya mas.. |
 | Gue rasa mulai dari hal kecil yang bisa kita lakukan aja misal kalo gak dipake keran jangan dibuka begitu pula saat lagi nyabunin muka kerannya kan bisa ditutup dulu baru nanti dibuka lagi, besarnya aliran air pas keran yang dibuka juga jangan besar2 disesuaikan lah, kalo bilas rambut pas keramas sekalian bilas sabun mandi, pokoknya bener2 hemat deh. Gue sempet ngerasain sendiri air di rumah jadi sangat minim ayo selamatkan bumi sebelum terlambat |
 | nah itu dia Cid... sehari ga punya air rasanya udah belibet banget, nyiksa gitu.. bayangkan yg ga punya air layak guna sampe berbulan-bulan... dan bener ga sih air tanah di sebagian wilayah Jakarta udah ga layak minum? krn ini yg bikin gue akhirnya ngarepin pada galon air mineral dan ga pernah minum air tanah/sumur di Jakarta dari lima tahun lalu sd sekarang |
 | bener bangettt omongan loe prit. |
 | mau ke dareah sanah? mari ke jatisrono Wi.. ehya makanya gue pas di feli itu kan hemat air.. sama kan ma lo :-) |
 | a very nice writing, mas pry... mengingatkanku untuk benar2 selalu hemat energy, air dan listrik... :) kan kita sayang sm bumi kita ini, kan?? |
 | makasih Deas... bukan suatu hal yg merugikan untuk kita mencoba menghemat energy dan memelihara bumi toh? ;-) |
| |